Melepas Sepi

28 Agustus 2016 20:40

bising mesin burung besi memecah sepi
terbang tinggi membelah langit pagi
selepas landas, semua berubah sunyi
aku berdiam diri
di pojok kiri pagar besi

saat kehangatan kopi dalam cangkir menguap pergi
atas segala yang tak sempat ku cicipi
segala hari tak lagi manis
sebagaimana, saat kau disini

sering kutemukan harapan telah basi
saat kucoba melawan nasib
tentang cerita yang tak pernah kembali

sering aku bertanya pada waktu
apakah ramai adalah sepi yang bunyi
ataukah, sepiku adalah ramaimu yang mendadak pergi

namun, dilubuk hatiku
tersisihkan niat yang pasti
ketahuilah kasih, aku masih disini
dengan kesetiaan, aku siap menantimu kembali

 

Penulis: Nurkholis Hamid

Pegiat PUSMAT Cabang Makassar