Ego Alter

17 September 2016 15:06

Aku sebenarnya pengangguran, sayang. Kalau ada yang hebat pernah kau dengar tentangku, percayalah itu hanya bualan. Itu hanya kecakapanku berbicara dengan bahasa yang berbelit-belit.
Jadi realistislah melihatku. Aku tahu setelah ini kau menjadi begitu muak, begitu menyesal telah terperangkap menyayangiku.
Walau aku pernah bilang bahwa kenyataan itu juga bangunan fikir kita sendiri tapi kenyataan adalah kenyataan dan fikiran adalah fikiran.
Aku cuma tidak bisa membedakan fikiranku dan kenyataan itu sendiri. Aku merangkai peristiwa yang kadar keabsahannya hanya 30 persen. Jadi insaflah.
Lalu kau bilang, setidaknya aku orang yang paling jujur yang pernah kau kenal. Aku menyuruhmu sadar saat ini sebagai bentuk rasa sayangku karena aku tak mau menipumu lebih lama lagi. Tak mau menjebakmu di dunia labirin yang membuatku juga tersesat sekian lama.
Aku mau berhenti dengan beban orang lain di benakku.
Bebanku sudah banyak. Terlalu penuh hal yang mesti kupertanggungjawabkan.
Kau boleh bilang aku pecundang. Terserah! Toh aku tak pernah mau tahu penilaian orang.
Kau tahu aku hanya hidup dengan imajinasiku dan tanpa itu aku tak bisa apa-apa.
Tapi kau. Kau seperti yang lainnya tak bisa melepaskan kakimu dari bumi, tak bisa hidup dengan bermodalkan imajinasi karena itu konyol.
Jangan pula kau bilang akan mencoba beradaptasi denganku atau membiasakan diri dengan kehidupanku.
Sungguh aku takut aku hanya jadi pecandu buatmu. Dan aku tak mau terbebani itu lagi. Pergilah selagi kau masih bisa.
Jangan kenang apapun tentangku.
Justru kau mesti bersyukur bisa melupakanku.
Aku tak mau kau dan siapapun mengenangku.
Pergilah!Bergegaslah!!
Jangan khawatir, tanpamu aku masih baik-baik saja.
Maaf, kalau kau merasa terluka. Luka hanyalah persepsi. Akan sembuh oleh waktu.
Seperti aku yang bahkan imun dengan kata luka.
Seperti aku yang menghapus kata luka dalam kamus di kepalaku.
Pergilah dan jangan berpaling. (Dikutip dari buku kumpulan puisi Rumah Rindu, 2014)

Puisi Irwan AR