Merevitalisasi Profesionalitas Farmasis Terhadap Ancaman Global (Resistensi Antibiotik)

25 September 2016 21:08

Hari Farmasi Dunia : “ Merevitalisasi Profesionalitas Farmasis terhadap ancaman Global (Resistensi Antibiotik) ”

Oleh : Nur Rahmah HM
(Mahasiswa Fakultas Farmasi UMI dan Kohati Kom.Farmasi UMI)

25 september 2016, merupakan hari yang paling khidmat bagi seluruh profesional Farmasis seluruh dunia. Bagaimana tidak, tepat hari itu merupakan hari farmasi sedunia ke-7 yang terbentuk dari hasil kongres FIP atau International Pharmaceutical Federation suatu federasi Farmasi global yang memiliki korelasi penting terhadap organisasi kesehatan dunia yakni WHO, yang hal ini FIP menjadi pengayom seluruh apoteker dunia.

Pada usia ke-7 Hari Farmasi sedunia ini, berbagai kemaslahatan telah menjadi agenda yang penting terselesaikan bagi disiplin ilmu kefarmasian. Meretas berbagai persoalan seputar isu tekhususnya terhadap penggunaan obat-obatan merupakan harapan besar masyarakat terhadap tenaga kefarmasian. Diluar dari hal itu, kesadaran penting bagi diri seorang farmasis tentu tidak terlepas bagi andilnya di tengah-tengah arus globalisasi yang kuat.

Sensitifitas skill power, menjadi genjotan utama seorang Farmasi agar peka terhadap perkembangan penemuan dan penggunaan obat yang tidak terlepas dari ancaman global, seperti resistensi bakteri terhadap antibiotik.
Dalam momentum Hari Farmasi Dunia ini, seharusnya menjadi pengembali marwah profesionalitas tenaga kefarmasian dalam menjaga ketertiban penggunaan obat-obatan. Seperti diantaranya, penggunaan antibiotik pada masyarakat yang harus berasaskan pedoman pelayanan kefarmasian tentang aturan pemakaian. Yang dalam hal ini, diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor. 72 tahun 1998 tentang Pengamanan sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan, Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 100, Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 3495), dan Undang-Undang No.36 Tahun 2014 Tentang Tenaga Kesehatan.

Kasuistik infeksi yang terjadi di Indonesia masih dalam deretan sepuluh penyakit terbanyak yang diderita. Penggunaan antibiotic yang berlebihan menjadi pemacu peningkatan resisten dan menimbulkan mikroba resisten seperti Methiciilin Resistant Staphylococcus aureus, dan berbagai resisten multi obat. Hal ini pun tentu berdampak pada meningkatnya morbiditas, mortalitas, biaya kesehatan, dan pengawasan kesembuhan pasien.

Penggunaan antibiotic yang berlebihan tentu tidak dapat dinafikkan bahwa akan mendorong berkembangnya resisten dan multiple resisten bakteri yang akan memunculkan infeksi silang. Hal yang perlu diinga, resistensi tidak dapat dihilangkan namun dapat diperlambat melalui penggunaan antibiotic yang bijak dan terstandar aturan. Oleh karenanya, Tenaga Profesional Farmasi dan Apoteker sangat diharapkan menjadi katalisator penting untuk meminimalisir kasus tersebut. Sikap diantaranya, dapat dilakukan dengan, kematangan pengetahuan disiplin seorang ilmu Farmasis yang peka sosial terhadap penyebaran informasi kepada masyarakat.

Kepercayaan masyarakat terhadap farmasi juga tidak dapat dikesampingkan sebagai elemen solusi problema meningkatnya infeksi akibat penggunaan antibiotik. Sebab, salah satu faktor kerancuan pemahaman masyarakat terhadap bebas penggunaan antibiotic juga terkait dengan minimnya tenaga ahli kefarmasian hari ini hadir sebagai pemberi arahan kepada pasien tentang aturan penggunaan obat terkait. Tidak sedikit diantaranya, akhirnya banyak terjadi penjualan obat bebas. Maka dari itu, melalui Hari Farmasi Dunia, semoga tidak menjadi euphoria simbolis eksistensi saja bagi seluruh Farmasis dan Apoteker penjuru dunia, tetapi juga menjadi pemacu esensi profesional sebagai salah satu tenaga kesehatan dunia.

Marilah kita, menjadi pengguna obat-obatan yang bijak sesuai pada aturan pemakaian dengan kondisi seperlunya. Sebab, mencegah lebih baik daripada mengobati.
Tanya obat ?, Tanya FARMASIS .