PON XIX Jabar : Catatan Kericuhan, Mobilisasi TNI Hingga Hujan Rekor di Tanah Legenda

29 September 2016 13:42

BANDUNG,INIKATA.com – Pekan Olahraga Nasional (PON) yang dipusatkan di Bandung, Jawa Barat, resmi berakhir hari ini (29/9/16).Sejumlah catatan mewarnai pesta olahraga empat tahunan ini. Mulai dari kericuhan hingga pemecahan rekor di beberapa cabang olahraga (cabor).

Tak khayal, di balik kemegahan PON Jabar ini meninggalkan “Noda Hitam” bagi penegak kebijakan di venue cabor (wasit, juri, hakim), pemandangan yang terjadi di beberapa cabor serta video-video kericuhan menghiasi laga cabang olahraga, baik cabor karate, judo, tinju dan polo air.

Hal ini tak dipungkiri Menteri Pemuda Dan Olahraga (Mempora) Imam Nahrowi, dia mengaku harus berkali- kali melaporkan kondisi terkini PON XIX Jabar kepada Presiden Jokowi.

” Pak presiden meminta laporan dan itu tanggung jawab saya, apalagi soal kericuhan mendengar itu saya langsung lakukan evaluasi dan dilakukan tiap hari selama PON di gelar,”ucapnya.

Selain itu Ketua PB PON, Ahmad Heryawan, yang Juga Gubernur Jawa Barat, mengaku sulit menjadi tuan rumah, lantaran tudingan negatif kerap dilayangkan, namun, sejumlah riak kericuhan yang terjadi segera dengan cepat dapat di redam.

” Sejumlah kericuhan yang terjadi dengan cepat kami antisipasi, kinerja pengamanan sangat baik, dan alhamdulillah tidak melebar dan membesar,”katanya, beberapa waktu lalu, di The Trans Luxury Hotel, saat ditemui inikata.com.

Antisipasi bentrok juga membuat Kepala Bidang Pertandingan PB PON, Yudha turut berkomentar, dia menilai kericuhan yang terjadi dikarenakan tuan rumah Jawa Barat mendominasi di hampir setiap laga, namun hal itu segera di redam, dengan sikap yang sigap.

” Kami akui sejumlah kericuhan terjadi, namun dimanapun itu riak konflik selalu tercipta, tinggal bagaimana kita melakukan pencegahan, wasit jadinya dituding curang,”tuturnya.

Sementara itu Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo, usai menyaksikan laga Cabor Karate di Sasana Budaya Ganesha (Sabuga) mengungkapkan kericuhan PON yang akan berujung pada turunnya kualitas atlet.

Hal itu disebabkan, wasit tidak lagi menilai secara kualitas atlet namun diduga lebih mengedepankan tuntutan tuan rumah,” Wasit mungkin maunya baek, tapi tekanan suporter kadang mengintimidasi secara mental,”katanya waktu itu.

MOBILISASI TNI JADI SUPORTER (Bold)

KERICUHAN juga turut terjadi saat Tentara Nasional Indonesia (TNI) gagal paham dalam fungsinya sebagai pengamanan, bahkan TNI larut dalam suka cita PON dan turut menjadi Suporter bagi tuan rumah.

Terdengar kabar memalukan bagi institusi negara ini saat salah satu personilnya memukul atlet DKI Jakarta dan menggertak beberapa suporter di Cabor Polo Air yang kala itu berakhir dengan kericuhan parah.

Hal itu ternyata disebabkan karena Kepala Kontingen Jawa Barat merupakan Mantan Panglima Daerah Militer (Pangdam) III Siliwangi, Mayor Jenderal (Mayjen) TNI Hadi Prasojo yang kini di mutasi ke Inspektur Jenderal Angkatan Darat (Irjenad) di Markas Besar TNI Angkatan Darat pasca bentrokan di Cabor Polo Air.

Dalam kesempatannya saat press confrence di The Trans Luxury Hotel, Hadi mengaku niatannya dalam memobilisasi TNI menjadi suporter hanya sebatas memeriahkan PON tanpa maksud ada intimidisi baik kepada juri maupun suporter lainnya.

” Lebih baik yang diekspose adalah sisi positif dari PON itu sendiri, lagian TNI Sudah tak lagi dilibatkan menjadi suporter, niatan saya hanya itu saja,”jelasnya.

Sementara Ketua PB PON, Ahmad Heryawan mengaku, pemilihan Ketua Kontingen melalui pemilihan yang sifatnya demokratis tidak asal menunjuk, melainkan melalui persetujuan dari beberapa anggota KONI Jawa Barat.

“Tapi kalau soal jadi suporter itu nda ada komunikasi sebelumnya, hanya saja itu merupakan hal yang menurut saya demokratis, turunnya TNI tidak bermaksud macam macam, saya sejujurnya tidak tahu menahu soal hal itu,”ungkapnya.

SATU WASIT DI COPOT (Bold)

AKIBAT terindikasi melakukan kecurangan dalam menjalankan tugas sebagai wasit, seorang wasit dari Cabang Olahraga (Cabor) Judo, diberhentikan dan di copot dari jabatannya pada Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX Jabar.

Kabar itu disampaikan oleh Dewan Pengawas dan Pengarah (Wasrah) PB PON, Dr Suwarno, yang juga Sekertaris Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Pusat, dia mengaku telah mencopot seorang wasit, demi alasan menjaga kredibilitas PON.

“Kami sudah berhentikan seorang wasit, dan itu bentuk peduli kami agar PON Berjalan lancar dan tidak kehilangan kredibilitasnya,”Akunya di The Trans Luxury Hotel, Jalan Gatot Subroto, (23/9/2016)

Akan tetapi Suwarno enggan menyebut identitas wasit dengan alasan menjaga nama baik, namun, dia menekankan, kebijakan serupa akan terus dilakukan jika saja ada wasit lainnya yang terindikasi perbuatan serupa.

“Tentu kita akan lakukan evaluasi secara terus menerus untuk melakukan yang terbaik terhadap lancarnya PON ini,”Jelasnya.

Suwarno juga enggan menyalahkan tuan rumah sebagai biang kerok terjadinya kecurangan,”Menjadi tuan rumah memang nga gampang, belum mulai pertandingan aja, sudah di tuding curang, dimana mana tuan rumah pasti akan dilabeli curang, olahraga international juga begitu, pasti di tuding curang,”urainya.

PECAHKAN REKOR (Bold)

NAMUN di sisi prestasi cabor, PON Jabar ini dapat diacungi jempol. Di mana rekor PON beberapa cabor terpecahakan di kota “Tanah Legenda” ini. Seperti pemecahan rekor PON terlahir di cabor renang, 400 meter gaya ganti perorangan putra.

Adalah perenang tuan rumah Jabar, Ricky Anggawijaya memecahkan rekor dengan catatan waktu 4 menit 30,67 detik. Rekor atlet Jabar ini tercepat 1 detik dengan catatan rekor yang ditorehkan Akbar Nasution di PON Riau 2012 dengan catatan waktu 4 menit 30,68 detik.

Rekor PON juga tercipta di nomor 400 meter gaya ganti perorangan putri. Perenang Riau, Azzahra Permatahani mencatatkan sejarah dengan waktu 4 menit 54,88 lebih cepat dari rekor PON tahun 1993 yang pernah dicatatkan Elsa Mayori Nasution dengan catatan waktu 5 menit 01,67 detik.

Dewan Pengawan dan Pengarah PB PON Dr Suwarno mengaku banhha dengan sejumlah catatan prestasi yang sangat luar biasa, hal itu menurutnya menggambarkan situasi olahraga Indonesi mengalami peningkatan dan tidak berjalan di tempat.

“Catatan prestasi yang diraih sunggu luar biasa dan patut diacungi jempol, itu bukti bahwa olahraga kita terus mengalami peningkatan,”ujarnya.

 

 

 

Penulis: Faisal Hamdan