Melirik Koleksi Museum Bank Indonesia

25 Oktober 2016 21:56

MAKASSAR,INIKATA.com – Beberapa waktu yang lalu penulis bersama 236 jurnalis yang tergabung dalam Temu Wartawan Daerah diajak Bank Indonesia (BI ) berkunjung ke Museum BI yang merupakan objek wisata bersejarah yang terdapat di kawasan Kota Tua, Jakarta Utara, tepatnya di bagian depan stasiun Beos Kota.

Tempat wisata ini terbilang cukup unik dan memberikan berbagai macam pengetahuan mengenai sejarah BI yang dulu awalnya adalah sebuah bank milik kolonial belanda bernama De Javashe Bank (DJB) pada tahun 1828. Bangunan ini juga menempati bangunan berusia tua dan memiliki sejarah panjang dalam dunia perbankan di Indonesia.

” Sebelum DJB museum ini juga dulunya adalah sebuah RS Binnen Hospital, lalu kemudian digunakan menjadi sebuah bank, pasca kemerdekaan tahun 1953 bank ini dinasionalisasikan menjadi bank sentral Indonesia atau Bank Indonesia,” ujar Delia, Guide Museum BI kepada penulis.

Selang 9 tahun kemudian yaitu pada tahun 1962, pemerintah Indonesia kemudian memindahkan BI ke lokasi baru dan lebih strategis, sehingga tempat BI yang dahulu menjadi kosong dan hanya digunakan untuk keperluan yang penting.

Melihat nilai historis yang tersirat pada gedung ini, pemerintah akhirnya menetapkan bangunan tersebut sebagai bangunan cagar budaya. Di samping itu, BI juga memiliki benda-benda dan dokumen-dokumen bersejarah yang perlu dirawat dan diolah agar memberikan informasi yang sangat berguna bagi masyarakat.

Berdalih memberikan informasi kepada masyarakat mengenai peran BI dalam perjalanan sejarah bangsa, termasuk memberikan pemahaman tentang latar belakang serta dampak dari kebijakan-kebijakan BI yang diambil dari waktu ke waktu secara objektif, Dewan Gubernur BI saat itu telah memutuskan untuk membangun Museum BI dengan memanfaatkan gedung BI Kota yang perlu dilestarikan.

” Pelestarian gedung BI Kota tersebut sejalan dengan kebijakan Pemerintah Daerah Khusus Ibukota Jakarta yang telah mencanangkan daerah kota sebagai daerah pengembangan kota lama Jakarta,” lanjut Delia sembari mengajak kami berkeliling.

Bahkan, BI pun diharapkan menjadi pelopor dari pemugaran/revitalisasi gedung-gedung bersejarah di daerah Kota. Setelah diresmikan oleh Gubernur BI Burhanudin Abdullah tahun 2006 dan juga Presiden RI Susilo Bambang Yudoyono tahun 2009, akhirnya museum ini bisa dikunjungi oleh masyarakat luas.

Jika diperhatikan bangunan ini terlihat sangat unik, tradisional, dan kokoh berdiri dengan tegaknya. Area parkir yang tersedia di tempat ini pun cukup luas sekali, sehingga mempermudah bagi para pengunjung untuk memarkirkan kendaraan.

Untuk memasuki museum pengunjung cukup merogok kocek Rp 5000, anda sudah bisa menikmati seluruh koleksi museum. Museum bisa dikunjungi mulai pukul 08.00 – 04.00 setiap hari.

Tidak hanya itu, jika berkunjung di waktu sekarang-sekarang ini, anda pasti akan terkejut melihat apa yang akan anda jumpai di dalam museum ini. Museum BI saat ini, disajikan dalam bentuk cyber museum.

Beberapa alat peraga sudah menggunakan teknologi modern, seperti LCD, informasi menggunakan layar sentuh, parabolic speaker dan sebagainya. Inilah yang membedakan museum ini dengan museum yang lain.

Selain itu, dalam Cyber Museum BI ini diceritakan mengenai perjalanan panjang BI dalam bidang kelembagaan, moneter, perbankan, dan sistem pembayaran yang dapat diikuti dari waktu ke waktu, sejak periode DJB hingga periode BI semasa berlakunya Undang-Undang No.11 tahun 1953, Undang-Undang No.13 tahun 1968, Undang-Undang No.23 tahun 1999, dan Undang-Undang No.3 tahun 2004 saat ini.

Nah, koleksi Museum BI terdiri dari dua lantai yang dapat dijelajahi oleh pengunjung. Lantai pertama terdiri dari pintu masuk utama, pintu masuk belakang, ruang pengeluaran, dan pengedaran uang perpustakaan serta kafe museum.

Sementara itu, lantai kedua terdiri dari lobi, ruang penitipan barang, ruang pelayanan pengunjung, ruang lokakarya teater, ruang pengantar sejarah, pra BI serta ruang pameran tetap, serta ruang emas. Di ruang galeri pertama para pengunjung diajak untuk mengenal mata uang Indonesia melalui teknologi hologram. Lalu ruang galeri berikutnya, para pengunjung bisa melihat bagaimana rempah-rempah Indonesia menjadi incaran para penjelajah Eropa.

Semua penjelajah Eropa dan Asia yang pernah berkunjung ke Indonesia ditampilkan di ruang galeri ini. Mulai dari Marco Polo, Laksamana Cheng Ho, Juan Sebastian Del Cano, Alfonso d’Albuquerque hingga Cornelis De Houtmen. Bahkan diorama yang menceritakan penjelajah Eropa ketika datang ke Indonesia juga ditampilkan di Museum ini.

Selain memperkenalkan para penjelajah Eropa, para pengunjung akan diperlihatkan dan diberikan informasi mengenai dunia perbankan ketika para penjajah kolonial Belanda tiba di Indonesia. Bahkan informasi dunia perbankan ketika Jepang menjajah Indonesia juga ditampilkan di museum ini. Yang menarik tentu saja diorama 3 dimensi yang semakin membuat informasi menjadi lebih menarik.

Tidak sampai disitu, ada berbagai macam peninggalan, fasilitas dan informasi sejarah yang dapat anda temukan di sini seperti mata uang baru, kursi koin, pintu baja, koleksi uang dari berbagai dunia dan tahun, informsi sejarah, bank tempo doeloe, karya – karya yang seru dan lucu, ruang teater dan taman luas di tengah – tengah bangunan. Perkembangan mengenai mata uang Indonesia juga ditampilkan. Para pengunjung juga bisa melihat replika dari ruang penyimpanan emas negara. Bahkan para pengunjung juga bisa berfoto di lembar mata uang Indonesia yang juga sudah disediakan oleh pengelola.

Saat pertama masuk, saya langsung menuju lantai dua karena tempat pemeran tetap koleksi yang ada di museum ini ada di lantai dua. Sebelum masuk saya pun terlebih dahulu menitipkan tas saya di tempat penitipan barang.

Lalu, saat pertama masuk saya melihat 12 ruang transaksi bank zaman dahulu.

GB 1 Ruang Transaksi Bank Zaman Dulu

museum-3

museum-1

museum-2

 

GB 2 Specimen uang yang tersebar di Indonesia

museum-20

museum-18

GB 3 Koleksi seragam tentara Belanda, Jepang dan Indonesia

museum-19

museum-15

museum-17
Lalu setelah melihat semua koleksi di museum Bank Indonesia, ada satu gambar yang menurut saya sangat menarik, yaitu gambar atau foto dimana logo dari Bank Indonesia sempat berubah-ubah dari waktu ke waktu, sampai logo dari Bank Indonesia yang dipakai sekarang.

Gb 4 Gambar metamorfosa logo Bank Indonesia

museum-21
Setelah itu saya pergi ke ruangan dimana tempat kerja dan juga rapat presiden Bank Indonesia. Furniturnya terlihat bagus, rapi, dan juga kokoh. Ruangan tersebut sangat nyaman dan tertata rapi, namun sayangnya kita hanya bisa masuk dipinggir ruangan kerja presiden BI tersebut

Gb 5 Ruang kerja presiden Bank Indonesia

museum-13

Gb 6 Alat teropong dari kapal dagang Belanda yang datang dan berlabuh di pelabuhan sunda kelapa

museum-16

Gb 7 Pengunjung juga bisa berfoto di lembar mata uang Indonesia yang juga sudah disediakan oleh pengelola

museum-14
Kemudian yang terakhir saya pergi ke ruangan yang menurut saya sangat menarik. Yaitu tempat penyimpanan replika emas . Disana, terdapat banyak emas batangan yang disimpan di dalam sebuah lemari kaca besar. Ini menjadi cadangan harta negara saat ekonomi terpuruk, sayang kami tak bisa mengetahui lokasi penyimpanan asli nya.

Gb 8 Replika emas batangan

museum-22

 

Penulis: Fakra Rauf