Kalian Bertarung di Ring Yang Berbeda, Bung!

1 Desember 2016 18:54

Kalian Bertarung di Ring yang Berbeda, Bung!
Hasan Basri Baso (Ketua Umum HmI Cabang Makassar)

Dugaan penistaan agama oleh Gubernur DKI Jakarta non aktif, Basuki Cahya Purnama, hingga melahirkan demo besar-besaran pada tangga 4 November 2016 yang kemudian dikenal sebagai demo 411, bahkan akan berlanjut pada demo besar-besaran berikutnya pada tanggal 2 Desember 2016 mendatang, disebut-sebut sebagai demonstrasi terbesar sepanjang Indonesia menyatakan kemerdekaannya. Saya diantara sekian banyak orang yang sepakat bahwa demonstrasi ini terwujud atas kekesalan umat Islam terhadap aparat penegak hokum yang dituding tidak adil mengadili “sang penista”. Sayangnya, demonstrasi ini dipersepsikan (oleh sebagian khalayak) sebagai gerakan anti pancasila, anti persatuan, dan upaya memecah bela unsur kesatuan Negara Republik Indonesia, hingga tudingan makar. Jika memang demikian, jelas telah terjadi pertarungan sengit dalam ring yang berbeda, bung!

Segolongan diantaranya meraka sementara berada pada ring pertarungan, demi pembuktian sederhana, umat mana yang rela ketika kepercayaannya dinistai. Di atas ring yang satu ini, suara-suara berteriak menantang bagi siapa saja yang siap bertarung, namun tak ada yang berani maju dan mengatakan, “saya relakan keyakinan kami dinistakan”. Namun, muncul suara menantang dari ring sebelah yang tak kalah menggema. Segolongan ini menantang siapa saja yang berani “memotong” kemaluan burung garuda, dipersilahkan naik ring pertarungan. Pertarungan ini dipastikan lebih sengit, pertarungan hidup-mati, siapa saja yang berhasil memotong kemaluan sang burung, berarti bunuh diri.

Tak ada yang peduli akan teriakan ini, bukan karena takut mati, melainkan enggan dipaksa bertarung dengan maksud yang dibuat-buat, lebih baik fokus pada pertarungan di panggung sendiri. Meski tanpa lawan, minimal bisa menang berdiri!

Bertarung di ring yang berbeda dan menang sendiri, beginilah nasib golongan yang berseteru saat ini. Selain dua golongan ini, ada juga golongan yang sangat mengherankan, yakni mereka yang selalu melihat pukulan ring sebelah mengenai muka lawan di ring sebelahnya. Saya curiga, golongan ini keseringan nonton film kartun one piece, dimana salah satu tokohnya memiliki tangan yang elastis guna melumpuhkan lawan. Lupakan sejenak golongan yang memiliki imajinasi tinggi ini, mari kita membicang golongan yang sementara berada di atas ring masing-masing.

Sebagai warga Negara Indonesia yang dibesarkan melalui organisasi Mahasiswa Islam tertua di Indonesia, saya percaya masalah yang terjadi belakangan ini mengingatkan kembali identitas jati diri bangsa yang beragam dan majemuk, akan tetapi masih banyak yang belum peka dan tanggap terkait masalah tersebut, menimbulkan gesekan antar golongan. Golongan agama dan golongan kebhinekaan, yang masing-masing merasa eksistensinya terancam.

Padahal, neraga kita adalah Negara hokum, yang sederhananya, persoalan ini mestinya diselesaikan melalui jalur hukum. Disangka menista, silahkan ditempuh melalui jalur hukum. Dituding ingin “memotong” kemaluan burung garuda yang sehari-hari membawa pita bertuliskan Bhinneka Tunggal Ika, silahkan tempuh jalur hukum.

Sejatinya perbedaan, kemajemukan, pluralitas, kebhinekaan, harus menjadi sebuah alasan untuk bersatu dan hidup saling menghargai satu sama lain serta melahirkan rasa cinta terhadap tanah air. Menilik sejarah panjang Bangsa Indonesia, agama dan keutuhan Negara selalu bergandengan, salah satunya dapat terlihat dari Piagam Jakarta, naskah yang disusun dalam rapat Panitia Sembilan atau 9 tokoh Indonesia pada tanggal 22 Juni 1945. Berubahnya, kalimat Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya, menjadi Ketuahan yang maha Esa, dipersepsikan sebagai bentuk kompromi agama terhadap Negara pada masa itu, bahkan hingga kini.

Nah, Demonstrasi besar-besaran yang telah lalu dan yang akan datang-juga diprediksi besar, sama sekali tak ada niat untuk melepaskan genggaman tangan dan kompromi agama terhadap Negara. Bukankah tiap kali Negara terperosok jatuh jadi jurang kehancuran, agama selalu menariknya. Bukankah di zaman penjajahan para kiai ikut mempertahankan wilayah Nusantara? Bukankah dalam penyusunan dokumen kenegaraan ada unsur agama yang saling melengkapi? Bukankah pemberontakan di Madiun dan Gestapu, ada pemuka agama yang menenangkan jiwa berkecamuk meski dibantai habis-habisan, mereka ini tak pernah mengatakan “Kami kapok berbangsa Indonesia”, melainkan mereka menyusun kembali bangsa ini. Juga reformasi dipimpin oleh cendekiawan muslim yang hingga saat ini masih setia mewarnai dinamika pemikiran bangsa ini

Hingga saat ini, agama tak akan melepaskan genggamannya, saya yakin itu. Jika tangan bangsa saat ini kesakitan, mungkin karena jatuhnya sudah terlampau jauh terperosok, sementara agama enggan melepaskankan genggamannya, bahkan memegangnya semakin kuat, sangat kuat, beramai-ramai. Tak rela Negara yang dibangun pendahulunya jatuh pada jurang kenistaan. Tugas selanjutnya adalah membongkar kembali kedua ring yang terlanjur telah dibangun. Sebab tak ada yang bisa saling memukul, yang ada saling membutuhkan. Tak perlu diperbesar dan dipolitisir sehingga merusak keharmonisan yang ada. Aksi yang terjadi merupakan bentuk kecintaan akan keutuhan nasional dan tidak ada lagi perpecahan. Semangat kebhinekaan harus terus diupayakan dalam menjaga persatuan NKRI.

Sebagai mahasiswa Islam yang juga sebagai Direct of Change, kami sangat paham bahwa mengamalkan pancasila adalah bagian dari meneguhkan eksistensi agama yang kami anut di bumi Nusantara ini, sila pertama Ketuhanan yang Maha Esa adalah bentuk keyakinan kami yang dalam bahwa memang Tuhan itu Esa, tak ada yang bisa mengelak dari Sabang sampai Merauke. Meskipun kita berbeda, kita tetap percaya ada kekuatan dan keyakinan yang Esa, bukankah ini bagian dari Tunggal Ika? Maka dari itu, mari bongkar ring masing-masing sebab menang berdiri tak elok!

Yakinlah, agama dan kebhinekaan bukan untuk diadu.