Identitas Pemuda Dalam Semangat Pajaga Lino

4 Februari 2017 14:16
Tomy Satria Yulianto, Pajaga Lino, Lingkar Data Indonesia )

( Milad ke 57: Pesan cinta dari Butta Panrita Lopi )

Sejarah tidak akan pernah lupa bagaimana pemuda sawerigading membangun peradaban iLagaligo di nusantara, Pemuda I Mallombassi Daeng Mattawang dalam membangun imperiumnya, Bagimana Pemuda Soekarno membingkai Indonesia, Serta bagaimana pemuda Sultan Dg Radja mengukir narasinya dalam menggaungkan semangat perlawanan pemuda.

Bangsa Indonesia secara jelas mengambarkan secara heroic, Bagaiamana semangat kepemudaan menjadi kata kunci dalam mempelopori lahirnya sebuah peradaban. Tentu, semangat kepoloporan pemuda pada setiap lintasan perabadan ini, Bukanlah sesuatu yang lahir secara instan, melainkan lahir dari akumulasi situasi, rasa cinta, yang secara nyata dapat dibahasakan dengan satu kata: Tanggungjawab!

Pajaga Lino adalah manusia yang seharusnya. Sang Maha Pencipta menciptakan mahluk paripurna yang bernama manusia dengan ke elokan bentuk tubuh, akal/fikiran, intuisi, cinta, kehendak, kemampuan imajinasi, kemampuan estetika serta sederet kelebihan – kelebihan lainnya dengan tujuan agar manusia bisa menjadi khalifah dalam rangka menghadirkan rahmat bagi seluruh alam (Baca: Tomy Satria Yulianto, Pajaga Lino, Lingkar Data Indonesia )

Saat ini peran pemuda sedang dieja, keberadaannya dituntut menjadi sumber gagasan ideal bagi bangsa ini. Hadirnya pemuda yang intelektual dan idealis diharapkan dapat menjadi penggerak lajunya perubahan sosial kearah yang lebih baik. Oleh Karena itu pemuda hari ini harus mempersiapkan dirinya untuk menjadi patron yang mampu memotivasi dan menginspirasi lingkungannya. Artinya, kisruh peradaban merupakan kenyataan sejarah yang mesti dihadapi pemuda saat ini. Perjalanan kehidupan yang semakin menjalar pada sebuah dinamika social yang tak menentu dalam mengagendakan perubahan, secara nyata mendesak pemuda untuk terus berjalan menuju tujuan luhurnya.

Tentu saja saat ini narasi menjadi hal penting untuk keberlanjutan kisah atas kedigjayaan pemuda, yang secara substansial, defenisi dalam gerak ideal pemuda sebagai “pajaga lino”, adalah dengan mengakselerasi diri pada sebuah tafsir peneguhan identatas, sebab sejatinya pemuda adalah melahirkan cinta pada setiap jengkal semesta. maka identitas pemuda dalam semangat pajagalino adalah:

Baca juga: Kakek Usia 60 Tahun Menetap di Pemukiman Menyerupai “Kandang Kambing”

Kita yang memahami dan berlaku bijak pada kosmos.
Kita yang memiliki kesejatian cinta terhadap pencipta dan juga pada semesta.
Kita yang selalu menyeru kebaikan pada semesta.
Kita adalah yang menyajikan cinta dalam kesejatian ide tak terbatas.

Oleh karena pemuda dalam semangat pajaga lino adalah mereka yang melukis semesta dengan cinta, rahmatan lillalamin. (Baca: Irwan Ali, Karena Kita Adalah Pajaga Lino) Maka, Hadirnya Pemuda Indah Putri Indriani, Adnan Puricta Ihsan YL, Tomy Satria Yulianto, Syamsu Rizal, Supriansah Bersama ribuan pemuda lainnya harus menjadi momentum lahirnya konsolidasi emosional pemuda, Yang diinterpretasikan secara nyata dalam visi dan agenda agenda aksi, Pemuda harus merespon ruang dan hadir dalam mengisi ruang ruang kosong perubahan.

Baca juga: Budaya GAM Dalam Mempertahankan Era Modernisasi Pengaruh Global

Akhirnya, Saya, atas nama pemuda, mengucapkan; Selamat hari jadi Kabupaten Bulukumba yang ke-57, yang saat ini sedang mempersembahkan sebuah karya dari bulukumba untuk peradaban, Ritual Art Ma’jaga Wanua (Pesan cinta dari Butta Panrita Lopi) Dan juga selamat kepada Sang maestro Bung Ichdar Yeneng Alfaraby, Karena anda, saya ingin sedikit mengutip pesan pramoedya ananta toer; “Sejarah dunia adalah sejarah angkatan muda, jika angkatan muda mati rasa, maka matilah sejarah sebuah bangsa.” Dan spirit atas karya pajagalino ini harus menginspirasi angkatan muda dalam gerak laku yang tersuguh dalam kehidupan nyata.