Kisah Kakek Mengais Sampah Dari Sisa Makanan Demi Hidup di Gubuk Sewaan

11 Maret 2017 21:13
Nuhung (70), terlihat mengais sampah didepan gedung Pasca Sarjana UNM, Phinisi, Jalan Pettarani, Sabtu 11/3/2017.(Foto:Afriansyah/inikata.com)

MAKASSAR, INIKATA.com– Siang itu Seorang kakek berwajah lesuh, usianya sekitar 70 tahun, terlihat mengais sampah didepan gedung mewah nan megah, di Pasca Sarjana UNM, gedung Phinisi, Jalan Pettarani, Sabtu (11/3/2017).

Di Usianya yang senja, tampak jelas raut semangat berkobar di balik wajahnya yang kusam, matanya terus memandang kala itu, sesekali badannya dia tundukkan kala melihat apa yang di carinya, yah, sampah plastik untuk dijualnya.

Kakek mengais sampah

Tubuh Nuhung tertunduk saat melihat sampah plastik yang akan diambilnya untuk dijual demi bertahan hidup.(Foto: Afriansyah/Inikata.com)

Namanya Nuhung Dg Ngitung, Warga Jalan Landak lorong 8, Kecamatan Rappocini Makassar, Dirinya mengaku, sampai yang dia cari itu bisa membuat hidupnya bertahan hidup,”Saya bisa hidup bersama istri dirumah karena dapat memungut sisa makanan untuk saya jual kembali,” kata ayah dua anak ini.

Dengan kata terbatah, dia mrngaku pada penulis, setelah memungut dampah dia harus mengolahnya kembali, sampah botol plastik itu harus dicuci sebelum dijual, agar harganya di pengepul tidak turun drastis.”Semuanya ini jika sudah saya kumpulkan akan dibersihkan duluh baru kemudian dijual,” ungkapnya.

Receh yang didapatnya usai menimbang sampah plastik diakuinya untuk membeli beras serta membayar sewa rumah kontrakan dengan ukuran 5×7 meter dengan ketinggian rumah dua meter.

Baca Juga: 18 Tahun Berpisah, Pencarian Seorang Ayah Menyentuh Hati

“Ini semua untuk saya jual kemudian beli beras dan sewa rumah, karena saya tinggal dengan sewa itu rumah ukuran lebarnya 5 meter dan panjangnya 7 meter, disana itu gubuk nak,” terangnya dengan tersenyum pipih.

Payahnya, keringat Nuhung yang mengucur tiap harinya, hanya menghasilkan paling tinggi Rp 250 ribu/Bulan, sementara sewa rumah perbulannya mencapai Rp200 ribu.

“Biasa pembeli dia ambilkan hanya 250 ribu saja. Rumah juga disana saya sewa dengan harga 200 ribu perbulan karena tanah dan rumahnya orang ku tempati,” tandasnya.(**)

Baca Juga: BACA!! Kisah Tukang Parkir yang Sukses jadi Polisi