Potret Nenek 75 Tahun, Dirikan Gubuk di Tepi Laut, Makan Dari Sampah

14 Maret 2017 18:20
Nenek I Mari berusia 75 tahun yang hidup di Gubuk Reyot tanpa sanak keluarga.(Foto: Inikata.com)

PINRANG, INIKATA.com– Desa kecil di Kabupaten Pinrang, Kecamatan Lanrisang, menyimpan potret kehidupan seorang nenek berusia 75 tahun yang hidup sebatang kara di Gubuk Reyot pinggir laut.

Wajah nenek itu sudah mengeriput, namun cahaya matanya menyimpan semangat hidup yang jarang dimiliki orang kebanyakan. I Mari namanya, dia seorang nenek yang mau tidak mau harus meredam keluh kesah dalam dirinya.

Rumah nenek

Rumah Nenek I Mari yang didirikan dari sisa sisa bambu beratapkan dau kelapa.(Foto: Inikata.com)

Gubuk 2×4 meter yang berada dipinggir laut itu menjadi tempat peristirahatannya, Gubuk itu dibuat dari jari jemari Nenek Mari, terbuat dari bambu beratapkan daun Kelapa.

“Malu kalau harus tinggal dan menumpang di rumah orang. Yang penting bisa menghalangi dari panas matahari dan hujan,” kata I Mari, Selasa (14/3/2017).

Tinggal di gubuk reyot yang rapuh terlebih di bibir pantai membuat keselamatan I Mari terancam angin kencang, apalagi jika terhembus puting beliung, akan tetapi hal itu bukan soal baginya, dia mengaku pasrah, apalagi tak ada seorang pun sana keluarganya.

Rumah nenek

Tempat masak I Mari yang tetletak di dalam Gubuknya.(Foto: Inikata.com)

“Saya pasrah, mau pindah juga mau pindah kemana, nda ada keluarga saya disini,” pasrahnya.

Baca Juga: Kisah Kakek Mengais Sampah Dari Sisa Makanan Demi Hidup di Gubuk Sewaan

I Mari bertahan hidup dengan memungut sampah plastik yang terbawa ombak, plastik itu dia jualnya seharga Rp 4.000 hingga Rp 7.000 per kilonya, selain itu, I Mari merasa beruntung, sebab tetangga dan beras raskin dari Desa setempat bisa menolongnya.

“Sehari-hari cuma pungut sampah plastik lalu dijual. Yah sekalian membersihkan (pesisir) pantai,” tutupnya.(**)

Baca Juga: Kakek Usia 60 Tahun Menetap di Pemukiman Menyerupai “Kandang Kambing”