RTH : Ruang Terbuka Hijau Atau Ruang Tembok Hijau

18 Maret 2017 7:30
Wakil Ketua DPRD Kota Makassa, Adi Rasyid Ali (Ara). (Foto: Arifuddin/Inikata.com)

Oleh: Adi Rasyid Ali (Wakil Ketua DPRD Kota Makassar)

SERINGKALI kita berbicara tentang ruang terbuka hijau (RTH) hampir semua diskusi- diskusi tentang RTH di media elektronik dan media cetak dan media online membahas. kita semua pernah dengar tapi apakah diskusi diskusi itu sudah dapat dipahami oleh masyarakat? jawabannya Bisa paham bisa tidak paham atau gagal paham atau pura pura tidak paham.

Sekarang Perda RTH sudah disahkan oleh DPRD Kota Makassar bersama Pemerintah Kota Makassar dan didalam perda sudah tercantum aturan yang mengikat yang menjadi turunan dari undang-undang (UU)  yang satu tingkat diatasnya.

Pertanyaannya Kembali apakah masyarakat sudah membaca?, saya yakin 90 persen belum membaca masalah ini sendiri buat bangsa kita, khususnya masyarakat kita yang memang kurang senang membaca, lebih senang mendengar ketimbang membaca.

Baca Juga:

Padahal perda RTH sangat penting diketahui oleh masyarakat karena disitu tercantum hak-hak masyarakat untuk mendapatkan ruang-ruang publik yang ramah lingkungan dan menjadi tempat aktifitas masyarakat kota.

Kita semua tahu bahwa RTH menurut UU mencapai 30 persen yang terdiri dari 20 persen ruang publik dan 10 persen ruang privat. Masih banyak ingin saya tulis tentang pentingnya RTH tapi ingin saya persingkat.

Bahwa masyarakat harus mengambil peran serta dalam pembangunan di sebuah kota masing-masing, kalau kita semua mewujudkan kota yang nyaman aman dan sejuk, kita mulai dari open space publik yakni ruang terbuka hijau.

Menurut beberapa analisis psikologi masyarakat yang tinggal dengan hutan beton dan masyarakat yang tinggal dengan lingkungan yang sejuk mempengaruhi Karakter dan individu manusia secara langsung maupun tidak langsung terkhusus terhadap anak cucu kita punya ruang-ruang bermain..artinya apa tanggung jawab kita semua untuk menjaga itu semua.(**)