Menguak Derita Si Jukir Cilik dari Kawasan Bisnis Boulevard

19 Maret 2017 9:52
Menguak Derita Si Jukir Cilik dari Kawasan Bisnis Boulevard.

PERJALANAN kali ini berjalan seperti biasanya. Sayapun mengendarai kendaraan di kawasan padat hunian bisnis yang tak jauh beberapa meter dari sebuah gedung mewah apartemen.

Sinar matahari menyoroti bumi dengan panasnya siang itu. Disamping gedung megah tinggi menjulang duduklah seorang anak sambil memegang secarik kertas. Di lehernya terlilit kalung yang mengantungkan sebuah alat sempritan.

Keringatnya bercucur. Tak peduli demi membantu orang tua. Derita itu, tersimpan bertahun-tahun di balik riuhnya kawasan bisnis di tengah Kota Megapolitan.

Tangannya nan lincah memutar kendaraan roda dua setelah ia beranjak berdiri melihat seorang tamu warung menuju parkiran.

Betapa tidak, terlihat sekali dia bekerja tanpa terpaksa. Usianya yang masih 15 tahun harus rela menghabiskan masa kanak-kanaknya di jalanan untuk mencari uang dengan cara menjadi juru parkir atau jukir.

Ketika penulis menemuinya di antara jejeran kendaraan roda dua, gayanya bak jukir parkir profesional. Di sela-sela aktifitasnya si jukir cilik sebut saja Naldy.

Naldy memang tak memasang tarif untuk setiap kendaraan yang menggunakan jasa parkirnya. Ia mengaku mendapat upah parkir bervariasi, kadang ia diberi Rp1.000 hingga ada yang Rp2.000.

Dari seharian bekerja sebagai jukir parkir ia menyebutkan kadang bisa mengumpulkan uang sebanyak Rp100 ribu hingga Rp150 ribu per hari.

Namun dari hasil mengumpulkan rupiah demi rupiah tersimpan rasa sedih di benaknya. Mengapa tidak, ia harus menyetor kepada seseorang pengawas parkir hingga Rp100 ribu.

“Kalau saya dapat Rp150 ribu saya setor ke dia (pengawas) Rp100 ribu. Kalau Rp130 ribu, yah Rp30 ribu ji untuk saya,” bebernya dengan nada sesak.

Baginya, menjadi jukir bukanlah keinginannya sendiri, bahkan anak yang mengaku berasal dari luar Sulsel ini mengimpikan duduk di bangku sekolah.

“Saya tidak pernah bersekolah. Kalau ada yang kasihka sekolah saya mau,” ceritanya sambil memegang topi berwarna hitam.

Untuk uang yang ia dapatkan dikumpulkan untuk membeli sesuatu dan kadang sisanya diberi kepada ibunya yang kesehariannya berjualan di Makassar.

“Bapak saya ada di luar Makassar, ibu saya jual jualanji. Saya ikut sama om parkir di sini,” sebutnya sambil menunjukan seorang laki-laki yang menurutnya itu adalah pamannya sendiri yang juga berptofesi sebagai jukir.

Kisah Naldy, si jukir cilik ini mungkin hanyalah bagian kecil yang ada di Kota Makassar. Di beberapa titik kota Makassar juga kita lihat banyak Naldy-Naldy lainnya yang harus bekerja meski masih di bawah umur yang seharusnya masih berhak mendapatkan pendidikan di bangku sekolah. (**)