Kompetisi Olahraga Bukan Hanya Soal Menang Atau Kalah

7 Mei 2017 11:19
Tomy Satria Yulianto.

TERINGAT sebuah nasehat bijak, “jika ingin mengenali rupa kejujuran, keadilan, dan sifat kesatria, maka bertandanglah ke gelanggang olahraga.”

Begitulah nilai yang diyakini sejak lama dalam medan olahraga, sebuah tempat yang menempatkan kehormatan karakter di atas segalanya. Hebatnya, nilai itu tetap kokoh bertahan bahkan di tengah gaduh gelanggang lainnya (sosial, politik, dan ekonomi) yang terjebak dalam logika kompetisi hukum rimba. Menghalalkan segala cara untuk meraih kemenangan.

Sekeras-kerasnya batu cadas, tetap saja harus merelakan beberapa bagian tubuhnya menjadi serpihan akibat hempasan ombak sepanjang waktu. Tak berbeda jauh dengan gelanggang olah raga yang kini telah menjelma padang tandus. Tumbuhan yang bernama kejujuran, kesatria, sportifitas, tak mungkin lagi akan dapat tumbuh subur disana.

Gelagat perubahan itu bukan hal yang benar-benar baru. Layar TV dan kolom surat kabar pada jauh-jauh hari telah mengabarkan ini. Hanya saja, kita yang mungkin pura-pura menutup mata dan telinga, Seolah semua baik-baik saja.

Tetapi, layaknya batu cadas yang harus takluk pada hempasan ombak, saya pun demikian. Bahkan untuk sekadar menyembunyikan rasa kecewa dari rumput hijau lapangan Karebosi pun sudah tidak sanggup. Ya … marah dan rasa kecewa telah mengakhiri kepura-puraan itu.

Ketika Cermin Tak Lagi Jujur
Semangat itu terlihat nyata. Membinar di antara bola mata mereka. Membaur dalam tarikan nafas, mengiringi derap tapak langkah Kesebelasan GASIBA yang saya dampingi bertolak dari Bulukumba menuju Makassar. Mereka layaknya para Kesatria Samurai di Negeri Sakura yang sedang melangkah ke arena tarung.

Sayang sekali, suasana arena tarung tak lagi seindah dulu. Idealisme, kehormatan, sikap kesatria, dan seperangkat nilai yang dulu mencorak khas pada arena tarung kini mengalami degradasi. Kehormatan sikap bahkan telah menjadi sosok asing yang nyaris tak lagi dikenali. Ibarat berkaca di cermin retak, cermin itu tak jujur memantulkan bayangan yang seharusnya ada.

Prinsip sportifitas yang pada masa lalu menjadi alasan kebanggan seseorang ketika membaur dalam semesta keolahragaan, kini sudah mulai pudar. Hasrat kemenangan menjelma determinant factor pembentuk nilai. Ya … semua telah berubah.

Mungkin kita lupa bahwa di balik altar perhelatan kompetisi olah raga terkandung tujuan besar untuk kepentingan bangsa ini ke depan. Apa itu? Semacam terapi pembiasaan karakter sportif. Jadi bukan hanya sebatas menang kalah. Hal sama yang menjadi alasan mengapa negara menggelontorkan anggaran yang tidak sedikit untuk perhelatan keolahragaan. (**)

Penulis: Tomy Satria Yulianto