Melanjutkan Harapan

20 Mei 2017 10:26
Hasan Basri Baso

* Refleksi Hari Kebangkitan Nasional

TUGAS Pokok Boedi Oetomo adalah untuk merintis jalan bagi perkembangan yang harmonis bagi negeri dan bangsa. (Soewarno-Salah Satu Pendiri Boedi Oetomo) Menyimak pernyataan Sejarawan Hilmar Farid pada salah satu media online yang mengungkapkan, pada Desember 1947 perjanjian di atas kapal USS Renville terkait batasan wilayah mengakibatkan Indonesia hanya memiliki sebagian Pulau Jawa dan Sumatera.

Ibukota pun dipindahkan ke Yogyakarta. Muncul pula oposisi Front Demokrasi Rakyat, yang digawangi
oleh Amir Sjarifuddin. Terjadi krisis yang salah satunya disebabkan kurangnya pasokan beras. Saat itu, dibutuhkan simbol persatuan bangsa. Bung Karno menilai kelahiran Budi Utomo pada 20 Mei 1908 merupakan simbol yang tepat, agar bangsa Indonesia mulai bangkit. Hingga kini, momentum itu diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Sebuah sejarah
bangsa Indonesia dalam menegakkan semangat nasionalisme.

Paparan Sejarawan Hilmar Farid diatas, sedikit banyaknya memberikan gambaran bahwa bangsa Indonesia setelah proklamasi kemerdekaan pernah terkoyak, baik karena faktor ekternal yakni agresi militer belanda ataupun faktor internal yakni munculnya sayap oposisi yang meronrong pemerintahan serta krisis pangan. Namun, semangat kebangkitan nasional, Indonesia mampu keluar dari keterpurukan saat itu.

Kondisi bangsa saat itu, memang tidak sama dengan kondisi bangsa Indonesia saat ini. Dan, memang terlalu picik untuk menilai ada kesamaan kondisi dulu dan sekarang.

Namun, kondisi eksternal dan internal sedikit banyaknya mempengaruhi adanya perpecahan di tubuh bangsa. Hegemoni bangsa adidaya yang masih terus disuarakan parlemen jalanan hingga beberapa pentolan senayan menjadi isyarat, bahwa bangsa masih mengalami penjajahan yang tak kasat mata.

Disisi lain, sistem demokrasi yang dianut bangsa Indonesia semakin menimbulkan celah perpecahaan anak bangsa. Sebab kebebasan berdemokrasi, oposisi pemerintahan makin bertingkah miris dalam mengeluarkan aspirasi. Mereka mengkritik pemerintah dengan dalih
kebebasan berpendapat dengan sebebas-bebasnya tanpa mempertimbangkan potensi pertikaian.

Operatornya duduk manis, tapi dapat mengontrol para lidah yang ditokohkan kritis. Konon, demonstrasi dapat berakhir dengan bagi-bagi nasi.

Potensi perpecahan bangsa berhembus bagai badai saat proses Pilkada serentak lalu, tertutama di Ibukota Jakarta. Intrik politik menyisakan delik. Demo dibalas demo, laporan dibalas laporan, pidana dibalas pidana. Saling menjatuhkan antar kubu menjadi tontonan. Penegakan hukum jadi bulan-bulanan. Nasionalisme jadi jualan, tapi isu agama yang laku keras.

Semua atas nama demokrasi. Sistem demokrasi yang berlaku telah menggiring masyarakat Indonesia kepada kepentingan kelompok dan golongan tertentu. Celah demokrasi ini harus segera ditutup, agar
tidak merusak semangat nasionalisme yang didengungkan pendahulu republik ini.

Untuk itu, saya sebagai penulis ingin menulis beberapa refleksi momentum hari kebangkitan nasional kali ini. Pertama; Punika Satunggaling padamelan sae sarta nelaken budi utami. Kalimat inilah yang diucapkan oleh Sutomo kepada Wahidin Sudirohusodo seperti yang
dikutip dalam buku Boedi Oetomo Awal Bangkitnya Kesadaran Bangsa yang ditulis Gamal Kamandoko.

Kata terakhir, “Budi Utami” yang kemudian menjadi inspirasi nama dari organisasi yang berdiri 20 Mei 1908 tersebut. Budi dalam bahasa sansekerta, Yaitu Bodhi atau Buddhi yang artinya keterbukaan jiwa, pikiran, kesadaran, akal, atau pengadilan. Sementara Utomo dalam bahasa sansekerta, yaitu Uttama yang berarti tingkatan pertama, sedangkan dalam bahasa jawa Utama berarti kebajikan atau kesempurnaan. (Gamal Kamandoko)
Bisa disimpulkan bahwa Budi Utomo berarti kesempurnaan atau kebaikan jiwa, kesadaran dan akal. Dengan demikian, Budi Utomo tak hanya dijadikan sebagai simbol kebangkitan
nasional, tetapi harus dipahami sebagai usaha menempatkan kembali keluhuran budi pekerti pada tingkatan pertama dalam membangun bangsa.

Mental buruk penghuni bangsa ini harus dibuang dan harus kembali diajari kearifan leluhur, agar stake holder bangsa bisa arif, bijaksana dan peduli pada rakyatnya. Bangsa ini bangsa berbudaya, bukan bangsa berbahaya. Kedua; Budi Utomo didirikan oleh anak muda yakni siswa STOVIA. Ada darah muda yang menalir begitu deras, dan tidak takut sanksi drop out dari tempatnya mengenyam pendidikan. Semengat mereka membangkitkan kesadaran masyarakat, melebihi ketakutannya.

Merenungi ini, kebangkitan nasional harus ditandai dengan kebangkitan semangat
perubahan dari kaum muda, sekali lagi. Dimulai dari kesadaran membangun organisasi yang tertata, modern, tanpa perebutan kepentingan.
Ketiga; Soekarno menetapkan 20 Mei sebagai hari kebangkitan nasional, membuktikan semangat penyatukan elemen bangsa. Saat ini, diperlukan semangat itu pada pemerintah Republik Indonesia. Diperlukan kerja nyata stake holder bangsa dalam menjadikan momentum kebangkitan nasional sebagai ajang persatuan secara menyeluruh setelah perpecahan dalam pesta demokrasi lalu.

Saran saya, pemerintah mesti membuat aksi mematikan cahaya lilin di pelosok dan lampu di seluruh Indonesia. Sebagai simbol mematikan keegoisan personal anak bangsa, serta mengenang bahwa pendahulu bangsa pernah sama-sama merasakan gelap, dan meyakini habis gelap akan terbit terang.

Terakhir, saya megutip harapan Soewarno yang ingin menjadikan Budi utomo sebagai perintis jalan keharmonisan negeri dan bangsa.

Lanjutkan harapan itu, dan gelorakan semangat anak bangsa untuk membangun masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT.

Penulis: Hasan Basri Baso